Tradisi Natal di Indonesia

artikel image
perayaan natal
hari raya umat Kristen yang diperingati setiap tahun oleh umat Kristiani pada tanggal 25 Desember
RTV.CO.ID | Oleh: Amazia Regina, 11 December 2015, 14:08 WIB

Natal berasal dari bahasa Portugis yang berarti “kelahiran" adalah hari raya umat Kristen yang diperingati setiap tahun oleh umat Kristiani pada tanggal 25 Desember untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus. Natal dirayakan dalam kebaktian malam pada tanggal 24 Desember dan kebaktian pagi tanggal 25 Desember.
ada beberapa tradisi Natal yang cukup unik di beberapa daerah di Indonesia, berikut tradisi Natal di berbagai daerah di Indonesia :

Natal di Yogyakarta
Pada perayaan Natal, pastor atau pendeta akan memimpin ibadah dengan menggunakan pakaian adat Yogyakarta yaitu beskap dan blangkon serta menggunakan bahasa jawa halus. Ada juga pertunjukan wayang kulit dengan tema “Kelahiran Kristus”. Sama seperti Lebaran, pada hari Natal pun ada tradisi silahturahim saling berkunjung ke keluarga dan tetangga.

Meriam Bambu, Flores
Jika Anda berkunjung ke Flores di bulan Desember, bersiaplah untuk mendengar suara dentuman-dentuman. meriam bambu pun dibunyikan pada masa Adven dan Natal hingga tahun baru. Tradisi meriam bambu ini menjadi ungkapan kegembiraan atas kelahiran Yesus Kristus.

Kunci Taon, Manado
Mereka menyebutnya sebagai perayaan Pra-Natal. Lagu-lagu natal sudah terdengar di setiap tempat, mulai dari toko-toko, mall, warung pinggir jalan, bahkan di angkot dan bus. Para pemuda Manado juga biasanya mengadakan pawai Sinterklas di mana seorang pemuda akan berpakaian seperti Sinterklas dan seorang lagi berpakaian seperti Piet Hitam. Mereka lalu akan berkunjung ke rumah-rumah untuk memberi hadiah dan nasehat bagi anak-anak. rangkaian acara Natal ini akan ditutup dengan Tradisi “Kunci Taon” atau “Kuncikan” yang diselenggarakan pada hari Minggu di bulan Januari. Pada acara Kunci Taon ini, warga akan mengadakan pawai keliling kota atau kampung dengan menggunakan kostum yang lucu-lucu. Festival Kunci Taon ini menjadi penutup dari seluruh rangkaian perayaan Natal di bulan Desember.

“Ngejot” dan Penjor, Bali
Perayaan Natal di Bali nyaris tidak ada bedanya dengan perayaan Galungan bagi umat Hindu. Untuk merayakan Natal, umat kristiani akan memasak makanan khas Bali. Di Kabupaten Tabanan, ada tradisi “ngejot”, yaitu memberikan bingkisan makanan menu khas Bali (seperti lawar dan sate babi) kepada tetangganya yang beragama Hindu. Tradisi “ngejot” ini sendiri juga dilakukan oleh umat Hindu saat mereka merayakan Galungan. Selain “ngejot”, umat kristiani Bali juga akan memasang penjor di rumah-rumah mereka dan di gereja, layaknya umat Hindu saat merayakan Galungan. Penjor ini merupakan hiasan janur pada batang bambu yang menjadi kelengkapan agama dan upacara adat masyarakat Bali. Pada saat perayaan Natal di Gereja, para jemaatnya akan mengenakan pakaian adat Bali.

Rabo-rabo, Jakarta
Di daerah Kampung Tugu, Semper Barat, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, warganya merayakan Natal dengan tradisi Rabo-rabo. Kampung Tugu sendiri merupakan tempat pemukiman warga keturunan Portugis. Pertama-tama, sebelum melakukan rabo-rabo, mereka akan berziarah ke makam. Rabo-rabo ini adalah bermain musik keroncong dan menari bersama sambil keliling kampung untuk mengunjungi sanak saudara. Uniknya, setiap penghuni rumah yang dikunjungi wajib mengikuti rombongan sampai ke rumah terakhir yang dikunjungi. Puncak tradisi rabo-rabo ini adalah melakukan “mandi-mandi”, yaitu warga berkumpul bersama sanak saudaranya lalu saling mencoret-coret muka satu sama lain dengan bedak putih. Hal ini menjadi simbol penghapusan kesalahan dan permintaan maaf menjelang tahun baru.

  
 



Back to Top

BERITA TERKAIT

KOMENTAR ANDA