Menag: Negara Hanya Mengakui Nikah Seagama

artikel image
Menteri Agama Lukman Hakim (Foto/www.kemenag.go.id)
Indonesia bukan negara yang sekuler
RTV.CO.ID | Oleh: Rohimat Nurbaya, 01 December 2014, 19:56 WIB

Pernikahan beda agama menjadi polemik yang pelik dan panjang. Pasalnya apabila ada yang ingin menikah, tetapi agama masing-masing calon berbeda, pernikahannya itu tidak bisa dimasukkan dalam pencatatan sipil. Dengan arti lain pernikahan itu tidak diakui negara secara hukum.

Terkait hal tersebut, sejumlah alumni mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia mengajukan judicial review atau uji materiil UU Perkawinan yang mengatur soal pernikahan yang dikaitkan dengan agama, ke Mahkamah Konstitusi (MK). Sampai saat ini gugatan tersebut masih diproses di MK.

Menanggapi penikahan beda agama tersebut Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, mengatakan persoalan menikah dengan orang seagama itu merupakan amanat undang-undang. Sehingga sebagai warga negara yang taat hukum harus selalu taat kepada undang-undang. 

Kata dia, sehingga bila ada pasangan beda agama yang ingin sehidup semati dan memaksakan menikah harus mengambil konsekuensi tidak diakui oleh negara. "Karena negara hanya mengakui yang seagama," kata Lukman saat wawancara khusus dengan RTV dalam acara Satu Jam Bersama Lukman Hakim. 
 
Lukman menuturkan, apabila dilihat dari sisi historis bangsa Indonesia merupakan bangsa yang menjunjung tinggi agama. Sehingga kebudayaan bangsa Indonesia akan sulit apabila dijauhkan dari aturan agama. 

Kata Lukman, Indonesia berbeda dengan negara sekuler. Karena di negara sekuler agama itu merupakan urusan individu seseorang saja dan negara tidak perlu ikut campur dalam urusan apa agama yang dianut oleh warga negaranya.

"Indonesia bukan negara yang sekuler seperti itu. Karena sejak ratusan tahun yang lalu, etnis apapun yang ada di Indonesia semuanya menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Jadi agama tidak bisa dipisahkan dari kita," terangnya.

Lihat video penjelasan Menag Lukman dalam program Satu Jam Bersama di RTV, di bawah ini:

 


Pernikahan beda agama menjadi polemik yang pelik dan panjang. Pasalnya apabila ada yang ingin

menikah tetapi agamanya berbeda, pernihakannya itu tidak bisa dimasukan dalam pencatatan sipil. Dengan

arti lain perikahan itu tidak diakui negara secara hukum.

Terkait hal tersebut, seorang mahasiswa Universitas Indonesia mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi

(MK) supaya undang-undang tentang pernikahan beda agama itu dirubah. Sampai saat ini gugatan tersebut

masih diproses di MK.

Menanggapi penikahan beda agama tersebut Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, mengatakan persoalan

menikah beda agama itu merupakan amanat undang-undang. Sehingga sebagai warga negara yang taat hukum

harus selalu taat kepada undang-undang.  

Kata dia, sehingga bila ada pasangan beda agama yang ingin sehidup semati dan memaksakan menikah harus

mengambil konsekuensi tidak diakui oleh negara. "Karena negara hanya mengakui yang se-agama," kata

Lukman saat wawancara khusus dengan RTV dalam acara Satu Jam Bersama Lukman Hakim.  
 
Lukman menuturkan, apabila dilihat dari sisi historis bangsa Indonesia merupakan bangsa yang menjunjung

tinggi agama. Sehingga kebudayaan bangsa Indonesia akan sulit apabila dijauhkan dari aturan agama.  

Kata Lukman, Indonesia berbeda dengan negara sekuler. Karena di negara sekuler agama itu merupakan

urusan individu seseorang saja dan negara tidak perlu ikut campur dalam urusan apa agama yang dianut

oleh warganegaranya.

"Indonesia bukan negara yang sekuler seperti itu. Karena sejak ratusan tahun yang lalu etnis apapun

yang ada di Indonesia semuanya menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Jadi agama tidak bisa dipisahkan dari kita," terangnya.

  
 



Back to Top

BERITA TERKAIT

KOMENTAR ANDA